(Quote) Kutipan Bang Ali Sadikin

Peran Ali Sadikin sebagai Gubernur sangat signifikan dalam menciptakan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan fasilitas modern. Bang Ali memang keras dan agak kontroversial. Karakter kepemimpinan Ali yang tegas, bermoral, bersih, dan berwibawa, dinilai sebagai teladan yang langka. Begitulah kesan banyak orang terhadap sosok Bang Ali, Gubernur DKI Jakarta yang paling legendaris.

Kutipan Bang Ali Sadikin

Kutipan Bang Ali Sadikin

Berikut beberapa kutipan dari Bang Ali Sadikin tentang kepemimpinan dan kota Jakarta yang disarikan dari beberapa sumber.

Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi andalan adalah kebahagiaan.

Berubah atau punah? Kritik itu biasa bagi orang yang berpikir.

Kerja, kerja, kerja. Cari uang untuk rakyat, termasuk (dari pajak) judi.

Jawaban berbagai permasalahan tantangan dengan satu jawaban yaitu BEKERJA dan bukan duduk di belakang meja.

Saya memang keras, tapi bukan berarti saya bebal.

Ada yang mengatakan bahwa dulu kemauan dan kehendak Bung Karno tidak bisa dicegah. Pengalaman saya, ya, bisa.

Kita tidak butuh orang pintar, orang pemberani. Hanya orang dengan integritas.

Dapatkan uang dari orang yang tepat, berikan kepada orang yang tepat, dalam proses wajar kalau ada yang ambil untung, tapi jangan serakah.

Orang tidak mengerti bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata, dus pikiran kita harus sampai ke sana.

Bang Ali Sadikin Dan Jakarta

Jakarta adalah warisan penjajah yang dibangun dengan paradigma pembangunan kolonial.

Jakarta harus bebas diskriminasi dan menjadi kota bersama bagi yang kaya maupun miskin terlepas dari persoalan ras dan etnis.

Suatu kota dikatakan baik bila mampu mengembangkan dunia pariwisata dan rekreasi.

Untuk keperluan rakyat Jakarta, saya berani.

Mereka (waria) juga manusia, dan mereka juga penduduk Jakarta. Jadi saya harus mengurus mereka juga.

Lalu lintas di Jakarta brengsek. Sayalah yang paling tidak puas terhadap keadaan itu.

Persoalan lalu lintas dan angkutan tak ubahnya dengan gelombang di lautan, datang, mereda, gemuruh, lalu mereda lagi. Tak henti-hentinya.

Sekarang jelas bahwa tugas gubernur itu mengayomi rakyatnya, mengurus dan peduli kepada rakyatnya dari lahir sampai mati.

Hiburan kan baik… Saya bangun lapangan Monas, saya bangun Ancol. Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. Awas elu ya, kalau mengganggu. Kalau melacur tidak boleh, tetapi kalau pacaran, lho itu kan anugerah Allah.

 

(Quote) Kutipan Bang Ali Sadikin

Loading...

Artikel Terkait

About the Author: Lentera Bijak

Seperti Lentera meski sinarnya redup namun bisa memberi secercah cahaya di kegelapan